RAN: Tiga Boleh, Segambreng Oke

By: gizoholic

Apr 05 2008

Category: artist

1 Comment »

Mereka bukan band, bukan juga vokal grup. Lantas? Yang pasti, mereka hanya bertiga! Tapi kok kalo manggung lebih dari tiga?

Malam itu, di akhir bulan Februari 2008, salah satu radio swasta di Jakarta menggelar pesta ulang tahun di Kamasutra, sebuah klab baru di bilangan Semanggi. Glenn Fredly, Tompi dan Iwa K didaulat menjadi pengisi acara. Karuan aja klab yang berlokasi di Hotel Crown Plaza itu disesaki fans..

Bisa ditebak, semua datang karena Glenn dan Tompi, duo solis yang memang punya fans cewek sejibun. Dan bisa ditebak juga, panitia menyimpan dua jagoan itu sebagai pemuncak acara.

Tapi tumben, sejak band pembuka naik panggung cewek-cewek cantik udah merapat ke bibir panggung. Mereka udah mulai bernyanyi dan membidikan ponsel ke arah panggung. Kemudian mereka kompakan berteriak meminta, Pandangan Pertama dan Nothing Lasts Forever dibawakan.

Pantas aja! Acara malam itu dibuka oleh tiga “cowok sialan” yang belakangan membuat pacar kita tergila-gila.

Ran. Yeah, mereka udah sukses membuat pacar dan gebetan kita semakin hobi bernyanyi. Disusul terkena sindrom addicted yang efeknya, singel Pandangan Pertama terpampang dalam playlist atau top rated di iPod dan iTunes.

Terakhir, saat mereka turun panggung, Ran mendapat applause yang cukup meriah. Membuat Rayi Putra (vokal/rap), Astono “Asta” Handoko (gitar) dan Anidyo “Nino” Baskoro (vokal), tersenyum. Termasuk Kopay (bas), Abe (perkusi), dan Rama (drum), additional player Ran.

Rayi, Asta dan Nino, mereka adalah teman satu sekolah di SMA Al-Izhar. Rayi dan Asta sempat punya band bernama FRD. Setelah lulus SMA, band ini terpaksa vakum lantaran beberapa personilnya melanjutkan studi ke luar negri.

Rayi dan Asta, belakangan menggebet Nino adik kelas mereka untuk ikut serta di band. Merasa satu visi, mereka coba membuat lagu. Rumah Asta yang kebetulan punya fasilitas buat home recording dijadikan base camp.

Karya perdana trio ini adalah singel Pandangan Pertama. Yang kemudian diikutsertakan dalam salah satu lomba cipta lagu tahun 2006. Lagu ini langsung menduduki posisi kedua.

Buntutnya, singel demo Pandangan Pertama pun menyebar. Seiring menyebarnya lagu ini, jalan mereka sedikit demi sedikit terbuka. Sampe akhirnya bertemu dengan seorang produser bernama Dondy Soedjono yang kemudian menyodorkan demo ini ke Universal Music Indonesia.

Ngomong-ngomong Ran ini vokal grup atau band, sih? “Waktu mengajukan diri ke Universal kami memang majuin format bertiga. Format yang bukan vokal grup dan bukan band,” bilang Rayi.

“Konsep kami memang bertiga. Karena berangkatnya dari proses pembuatan lagu Pandangan Pertama. Saat bikin lagu-lagu lain, ya format ini yang jalan,” timpal Asta.

Sadar karena maju dengan format ganjil, Ran sepakat melengkapi diri dengan addional player. “Bisa aja sih kami main instrumen, tapi nanti, satu saat, pasti ada batasannya kalo tampil cuma bertiga. Makanya kami coba rekrut temen-temen yang satu visi main musiknya,” giliran Nino angkat bicara.

Nggak tanggung-tanggung saat pertama kali manggung Ran memboyong delapan orang additional. Yap. Total mereka tampil bersebelas dengan dua gitar, dua keyboard, dua backing vokal, seorang drumer dan pemain perkusi.

Sampe saat ini, saban Ran tampil, Kopay (bas), Rama (drum), Abe (perkusi) dan Nina (keyboard) selalu setia mengawal. Cukup loyal, karena Kopay dan Abe udah jalan bareng Ran dari awal.

Tapi sebenarnya dengan segala keterbatasannya, setiap kali ada tuntutan main live Ran itu sangat fleksibel. Mereka nggak harus tampil dengan bareng Kopay cs.

“Beberapa kali tampil di TV kami bertiga. Itu dengan minus one. Bisa juga bertiga, tapi mungkin formatnya akustikan. Atau mungkin aja ngeband tapi nggak semua additional dibawa,”sahut Rayi, cowok berkepala plontos dengan kawat gigi.

“Musik Ran itu dasarnya pop. Tapi ada gabungan dari funk, hip hop, R‘nB, jazz dan reggae. Influenced kami bertiga kan beda-beda,” jelas Rayi, yang masih berstatus mahasiswa Universitas Indonesia itu.

“Hasil kolaborasi kami adalah musik yang sering dibilang orang sebagai musik urban,” ujar Asta.

Ngomong-ngomong soal Urban, konon mereka juga sering diidentikan dengan band urban lain yang udah nongol duluan. “Bener tuh! Kebanyakan sih bilang kita kayak Maliq and d’Essential,” bilang Nino.

Tapi mereka bertiga menyangkal kalo dibilang meniru. “Coba dengerin lagi! Pasti ada bedanya. Salah satu poin plus kami ada di bagian rap. Jadi itu bedanya dengan band lain,” jelas mereka.

Well, asal jangan tambah penyanyi cewek aja! Takutnya malah kayak Tangga.

One Response to “RAN: Tiga Boleh, Segambreng Oke”

  1. nino kasi k emailq ya no hpmu devi.andari@yahoo.co.id


Leave a Reply